Selasa, April 21, 2026
  • Login
  • Framing
  • Life Style
  • Healty & Sporty
  • Campus to Campus
  • Hotel
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Wisata
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Framing
  • Life Style
  • Healty & Sporty
  • Campus to Campus
  • Hotel
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Wisata
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Wisata

Ekowisata Jadi Jalan Baru Pariwisata Indonesia: Menyelamatkan Alam, Melestarikan Budaya, dan Memajukan Rakyat

admindestina by admindestina
28/09/2025
in Wisata
0
Ekowisata Jadi Jalan Baru Pariwisata Indonesia: Menyelamatkan Alam, Melestarikan Budaya, dan Memajukan Rakyat

destinasiaNews – Indonesia, dengan julukan Zamrud Khatulistiwa, diakui sebagai salah satu gudang kekayaan hayati dan budaya terbesar di dunia.

Dari deretan gunung berapi yang megah, garis pantai yang membentang puluhan ribu kilometer, hingga satwa endemik langka seperti gajah, harimau, dan badak, semua menyimpan potensi masif untuk menjadi magnet ekowisata global.

Baca Juga

Merayakan Liburan Sekolah, NuArt Gelar Family Art Month 2025 Bertema Dreams and Stories

Eiger Camp di KBB Tidak Melanggar Karena Perizinan Lengkap, Masyarakat Jangan Terprovokasi

Namun, potensi luar biasa ini dinilai belum tergarap optimal, bahkan dianggap tertinggal dari negara-negara tetangga.

Kritik tajam dan solusi visioner ini datang dari Guru Besar Fakultas Kehutanan dan Lingkungan IPB University, Prof. Ricky Avenzora.

Dalam Konferensi Pers Pra-Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 18 September 2025,, Prof. Ricky tidak hanya menyoroti masalah, tetapi juga menawarkan cetak biru transformasi pariwisata Indonesia.

Prof. Ricky Avenzora mengungkapkan bahwa pariwisata Indonesia saat ini masih terbelenggu oleh masalah klasik.

“Kita punya kekayaan luar biasa, tetapi yang muncul justru konflik manusia dengan satwa liar, kerusakan alam, dan distribusi manfaat pariwisata yang tidak adil. Masyarakat kecil hanya mendapat ‘recehan’,” ujar Prof. Ricky Avenzora.

Menurutnya, masalah pariwisata Indonesia mengerucut pada tiga persoalan besar:

– Kalah Bersaing: Devisa dan jumlah wisatawan asing Indonesia masih tertinggal dibandingkan negara tetangga.

– Kerusakan Potensi: Potensi alam dan budaya yang menjadi modal utama pariwisata banyak yang mengalami kerusakan.

– Ketidakadilan Manfaat: Manfaat ekonomi pariwisata lebih banyak dinikmati oleh kelompok menengah-atas, meninggalkan masyarakat kecil dalam kemiskinan.

Dalam paparannya yang berjudul Retrospeksi Akademis 35 Tahun Pembangunan Ekowisata di Indonesia, Prof. Ricky menekankan perlunya pergeseran fundamental dalam memaknai kegiatan pariwisata. Rekreasi dan pariwisata, katanya, tidak boleh lagi dimaknai sebatas kebebasan bepergian.

“Harus diubah menjadi perjalanan berkesadaran yang memberi manfaat bagi semesta. Itulah ekowisata,” tegasnya.

Ekowisata, dengan demikian, bukan sekadar melihat keindahan alam, tetapi juga tentang cara menemukan jati diri bangsa, melestarikan warisan budaya yang kaya, dan secara konkret meningkatkan kesejahteraan rakyat.

Prof. Ricky juga menyoroti harta karun Indonesia yang paling berharga namun terabaikan, yakni  budaya Nusantara.

Dengan lebih dari 1.300 etnis, ratusan jenis seni bela diri, permainan tradisional yang beragam, hingga ribuan folklor yang belum terekspos, Indonesia berpotensi besar mengembangkan industri kreatif kelas dunia berbasis ekowisata budaya.

Untuk keluar dari jebakan pariwisata massal yang merusak dan tidak merata, Prof. Ricky menilai pengembangan pariwisata harus bergeser dari sekadar membangun fasilitas mewah untuk turis, menjadi pembangunan yang berpihak pada masyarakat lokal.

Prof. Ricky Avenzora menyoroti pentingnya peran sektor swasta sebagai inkubator bisnis komunal.

Pengusaha menengah-atas yang konsisten mengembangkan ekowisata harus didukung penuh. Sebagai contoh positif, ia menyebut inisiatif seperti EIGER Adventure Land.

“Indonesia hanya punya sedikit pengusaha wisata menengah-atas yang konsisten mengembangkan ekowisata.

EIGER adalah salah satunya, dan semestinya didukung penuh pemerintah,” katanya, menunjukkan bahwa kolaborasi antara akademisi, masyarakat, dan pengusaha adalah kunci.

Di sisi lain, Prof. Ricky melayangkan kritik keras terhadap praktik penyegelan dan pencabutan izin usaha wisata di sejumlah daerah.

“Pola hentikan dan bongkar adalah bentuk arogansi jabatan yang secara hukum tidak dibenarkan, serta secara sosial-ekonomi sangat merugikan masyarakat luas dan juga negara,” ujarnya.

Kebijakan yang tidak berpihak pada usaha rakyat dan dunia usaha hanya akan menghambat laju ekonomi berbasis pariwisata.

Sebagai jalan keluar yang komprehensif, Prof. Ricky menawarkan beberapa langkah strategis:

– Academic Reengineering: Perombakan total di bidang pariwisata di ranah akademis untuk melahirkan SDM yang berwawasan ekowisata dan berkelanjutan.

– Pergeseran Paradigma Pembangunan: Dari fokus turis menjadi fokus masyarakat lokal sebagai subjek dan objek pembangunan.

– Regulasi yang Ramah: Dukungan regulasi yang kondusif bagi masyarakat yang berbisnis pariwisata dan dunia usaha yang berkomitmen pada ekowisata.

Ekowisata kini bukan hanya sebuah tren, tetapi telah menjelma menjadi kebutuhan dan jalan baru bagi pariwisata Indonesia.

Ini adalah visi yang menjanjikan: pariwisata yang menjaga alam, melestarikan budaya, dan memastikan kesejahteraan rakyat secara merata. (*Red)

Share234Tweet146SendSend
admindestina

admindestina

Artikel Lain

Merayakan Liburan Sekolah, NuArt Gelar Family Art Month 2025 Bertema Dreams and Stories
Wisata

Merayakan Liburan Sekolah, NuArt Gelar Family Art Month 2025 Bertema Dreams and Stories

17/06/2025
Eiger Camp di KBB Tidak Melanggar Karena Perizinan Lengkap, Masyarakat Jangan Terprovokasi
Wisata

Eiger Camp di KBB Tidak Melanggar Karena Perizinan Lengkap, Masyarakat Jangan Terprovokasi

29/03/2025
Tradisi Unik di Sumedang, Menjelang Ramadan Gelar Gembrong Liwet dan Turun Kastrol
Wisata

Tradisi Unik di Sumedang, Menjelang Ramadan Gelar Gembrong Liwet dan Turun Kastrol

02/03/2024
Wisata

Yuk, Wisata ke Sumbu Kosmologis Yogyakarta!

09/01/2024
Next Post
Haji AW Gelar Milangkala ke-35 Kahuripan 69, Fokus Khitanan Massal dan Berbagi Ribuan Sembako

Haji AW Gelar Milangkala ke-35 Kahuripan 69, Fokus Khitanan Massal dan Berbagi Ribuan Sembako

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Dankodiklatad Temui Pangdam XIII/Merdeka, Perkokoh Sinergi Pembinaan Latihan Strategis

Dankodiklatad Temui Pangdam XIII/Merdeka, Perkokoh Sinergi Pembinaan Latihan Strategis

21/04/2026
Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung Hadirkan “Easter Playtime” Program Little Chef

Swiss-Belresort Dago Heritage Bandung Hadirkan “Easter Playtime” Program Little Chef

21/04/2026
Liburan Sekolah Lebih Seru di Swiss-Belresort Dago Heritage, Pesan Melalui Aplikasi Mobile

Liburan Sekolah Lebih Seru di Swiss-Belresort Dago Heritage, Pesan Melalui Aplikasi Mobile

21/04/2026
Wadan Kodiklatad Hadiri Pengarahan Wakasad, Tekankan Kepemimpinan dan Profesionalisme Prajurit

Wadan Kodiklatad Hadiri Pengarahan Wakasad, Tekankan Kepemimpinan dan Profesionalisme Prajurit

21/04/2026
Upacara 17-an, Panglima TNI Tegaskan Disiplin dan Profesionalisme di Tengah Dinamika Global

Upacara 17-an, Panglima TNI Tegaskan Disiplin dan Profesionalisme di Tengah Dinamika Global

21/04/2026

Menu

  • Airport
  • Apartement
  • Campus to Campus
  • Destinasi
  • Entertainment
  • Framing
  • Healty & Sporty
  • Hotel
  • Life Style
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Technologi
  • Uncategorized
  • Wisata
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber

© 2026 Destinasianews -

No Result
View All Result
  • Framing
  • Life Style
  • Healty & Sporty
  • Campus to Campus
  • Hotel
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Wisata
  • Teknologi

© 2026 Destinasianews -

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In