destinasiaNews — Pembiaran lahan kosong selama puluhan tahun di kawasan Sukamiskin, Arcamanik, memicu keresahan sekaligus gerakan warga. Sebidang tanah seluas kurang lebih 1.000 meter persegi di sekitar Bundaran Jalan Amethys 16, yang dipenuhi semak belukar dan rumpun bambu, diduga lama dibiarkan tanpa penanganan serius meski berada di tengah kawasan permukiman.
Selama hampir tiga dekade sejak 1998, area tersebut berubah menjadi lahan liar yang disebut warga kerap menjadi habitat ular. Hewan itu beberapa kali masuk ke lingkungan perumahan Amethys Estate hingga mendekati kawasan sekolah dasar, yakni SDN 269 Griya Bumi Antapani. Kondisi tersebut dinilai sudah mengancam keselamatan warga, terutama anak-anak.
Selain persoalan ular, lahan terbengkalai itu juga disebut menjadi salah satu penyebab genangan dan banjir ke wilayah sekitar saat hujan deras.
Ironisnya, menurut warga, hingga kini belum terlihat langkah konkret dari pihak terkait maupun pemilik lahan untuk menata, membersihkan, atau mengamankan area tersebut.
Merasa diabaikan, warga RT 04 RW 15 Kelurahan Sukamiskin memutuskan bergerak sendiri. Pada Minggu pagi, 26 April 2026, mereka berencana menggelar kerja bakti massal membersihkan lahan tersebut sekaligus membahas pemanfaatannya ke depan.
Kepala SDN 269 Griya Bumi Antapani, Wanti, mengaku lega mendengar rencana tersebut.
“Saya tahu seminggu lalu ada empat pekerja selama seminggu membabat area terbengkalai, namun rasanya belum cukup. Sarang ular di bekas rumpun bambu, hanya ditebang batang dan daunnya, akarnya belum sama sekali,” ujarnya, Jumat (24/4/2026).

Warga Amethys Estate, Asep, yang telah lebih dari lima tahun tinggal di kawasan itu, menyambut baik kerja bakti tersebut.
“Ini mah bukan sekadar kerja bakti, tapi silaturahim juga. Sebab selama ini amat jarang ada pertemuan seperti ini,” katanya.
Ketua RT 04 RW 15 Sukamiskin, Riqhi Razak Yustitia, berharap kegiatan ini bukan hanya membersihkan lahan, tetapi juga menjadi awal penataan kawasan.
“Tak ada salahnya kerja sama atau kolaborasi dengan pengelola Jasmine Integrated Farming RW 19 Antapani Tengah. Kami di Amethys kelak bisa ikut program ketahanan pangan dengan menanam sayur dan buah,” ujarnya.
Riqhi mengaku selama tiga pekan terakhir telah bolak-balik mengurus dan meminta pembersihan lahan tersebut ke Kantor Wilayah DJKN Jawa Barat di Jalan Asia Afrika, Bandung.
Ia optimistis kerja bakti akan mendapat dukungan banyak pihak.
“Alhamdulillah, bersama warga kita akan merumuskan mau diapakan lahan ini, dengan tema ketahanan pangan dan ruang terbuka hijau bagi Bandung,” katanya.
Dukungan juga datang dari Ketua Kelompok Swadaya Masyarakat Jasmine Integrated Farming (JIF) RW 19 Antapani Tengah, Doddi Iryana Memed.
“Kami siap membantu merintis pendirian taman buah dan sayur dalam kaitan ketahanan pangan serta ruang terbuka hijau. Insya Allah hari Minggu mendatang kami siap hadir,” ujarnya.
Aksi warga ini menjadi simbol kekecewaan terhadap lambannya penanganan lahan terbengkalai di tengah kota. Kini warga menunggu, apakah suara mereka akan didengar, atau kembali terabaikan.(HS/dtn)









