destinasiaNews — Kembali, fenomena pembiaran lahan kosong seluas kurang lebih 1.000 meter persegi di kawasan Amethys Estate RT 04 RW 15, Kelurahan Sukamiskin, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung, memantik kegeraman warga.
“Ini sudah lama dibiarkan oleh Kantor DJKN Jawa Barat. Bayangkan, sejak 1998 lahan ini berubah jadi hutan kecil, sarang ular, dan tawon. Belum lagi soal banjir di sekitar sini, ini salah satu penyebabnya. Kami harus sabar sampai kapan?!” seru Gani, aktivis Karang Taruna setempat.
Pernyataan Gani disampaikan saat sejumlah warga RT 04 RW 15 turun langsung ke lokasi lahan terlantar tersebut pada Minggu (26/4/2026). Kegiatan itu dipimpin Ketua RT setempat, Riqhi Razak Yustitia, didampingi Ketua Keamanan lingkungan, Asep.
Penjelasan lain disampaikan Iyan, warga setempat yang sehari-hari berkegiatan di SDN 269 Griya Bumi Antapani, yang lokasinya bersebelahan dengan lahan tersebut.

“Kalau ular sudah sering masuk ke sekolah, terutama saat musim hujan. Syukur hari ini kita bisa berkumpul membahas masalah ini. Kalau sementara belum digunakan, bagaimana kalau lahan ini dimanfaatkan untuk tanaman sayur dan buah-buahan? Hitung-hitung mendukung program ketahanan pangan,” ujarnya penuh harap.
Ketua RT Minta Solusi Tuntas
Kepada wartawan, Ketua RT Riqhi Razak Yustitia menjelaskan, sekitar sepekan sebelumnya ada empat pegawai harian lepas dari Kantor DJKN Jawa Barat yang datang membersihkan area tersebut.
“Namun menurut warga, pekerjaannya belum tuntas. Dugaan sarang ular di rumpun bambu masih ada. Sampah juga entah dari mana kembali muncul. Karena itu, kami hadir di sini untuk mendiskusikan bagaimana nasib lahan terlantar ini ke depannya. Harapannya ada solusi yang saling menguntungkan, misalnya dimanfaatkan untuk menanam sayuran,” kata Riqhi.
Ia menambahkan, dua hari sebelumnya ada pihak yang menghubunginya melalui sambungan WhatsApp dari luar negeri dan mengaku sebagai pemilik lahan. Menurut pengakuannya, status kepemilikan lahan tersebut sedang dirundingkan dengan Kantor DJKN Jawa Barat.
“Sebagai Ketua RT yang menampung aspirasi warga, saya sudah menjelaskan duduk persoalan ini kepada pihak yang mengaku pemilik lahan. Terutama mengapa warga merasa keberatan atas kondisi lahan yang selama ini terkesan diabaikan pemeliharaannya. Semoga segera ada titik temu, yang penting kita semua tetap kondusif di lapangan,” ujarnya.(HS/dtn)









