destinasiaNews – Permintaan kendaraan energi baru atau NEV di Indonesia tumbuh pesat. Data GAIKINDO mencatat pangsa pasar mobil listrik nasional naik dari kurang dari 1% pada 2022 menjadi 20% pada kuartal pertama 2026 untuk segmen penumpang. Namun kondisi geografis Indonesia yang luas dan infrastruktur pengisian daya yang masih berkembang membuat konsumen butuh kendaraan yang fleksibel. Menjawab itu, BYD resmi membawa teknologi Dual Mode ke Indonesia.
Teknologi ini menggabungkan motor listrik dan mesin pembakaran dalam satu sistem, untuk pengalaman berkendara yang efisien sekaligus fleksibel.
“Teknologi yang bernilai harus memberi manfaat luas bagi masyarakat. Melalui Dual Mode, BYD ingin hadirkan solusi transisi energi yang fleksibel dan mudah diakses,” ujar Liu Xueliang, Vice President BYD Co., Ltd.
Teknologi DM BYD pertama kali diperkenalkan 2008. Kini masuk generasi DM 5.0 yang lebih efisien dan cerdas.
Secara global, BYD sudah menjual lebih dari 7 juta unit PHEV dan 16 juta unit NEV di 121 negara. Pada 2025, penjualan global NEV BYD tembus 4,6 juta unit.
Di Indonesia, BYD dan DENZA menguasai sekitar 40% pangsa pasar EV hingga April 2026, dengan penjualan hampir 20.000 unit atau tumbuh 53%. Total 90.000 unit BYD sudah mengaspal di Tanah Air.
Teknologi DM hadir dalam tiga varian: DM-i untuk efisiensi harian, DM-p atau Dual Mode Powerful untuk performa tinggi, dan DMO atau Dual Mode Off-road untuk kondisi jalan berat. BYD juga memperkenalkan filosofi G.A.S.: Gesit, Andal, Senyap, Super Irit.
Dalam uji internal, DM BYD mampu menempuh lebih dari 1.800 km dengan konsumsi bahan bakar hingga 65 km/liter, atau 60% lebih efisien dibanding mobil bensin 1.500 cc.
“Teknologi DM hadir untuk melengkapi pertumbuhan NEV agar lebih inklusif dan menjangkau lebih banyak wilayah di Indonesia,” kata Eagle Zhao, President Director PT BYD Motor Indonesia. (HRS/Rls/dtn)









