Kamis, Agustus 6, 2026
  • Login
  • Framing
  • Life Style
  • Healty & Sporty
  • Campus to Campus
  • Hotel
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Wisata
  • Teknologi
No Result
View All Result
  • Framing
  • Life Style
  • Healty & Sporty
  • Campus to Campus
  • Hotel
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Wisata
  • Teknologi
No Result
View All Result
No Result
View All Result
Home Framing

Cara Praktis dan Berdaya Guna “Ternak Tuyul” Era Milenial, Korupsinikus: “Utamakan Produk Lokal, Dong!”

admindestina by admindestina
05/08/2026
in Framing
0
Cara Praktis dan Berdaya Guna “Ternak Tuyul” Era Milenial, Korupsinikus: “Utamakan Produk Lokal, Dong!”

Esai Tuyulisme  oleh Harri Safiari

 destinasiaNews, BANDUNG – Pada suatu pagi yang belum selesai mengantuk, Korupsinikus menemukan sebuah brosur di atas meja.

Baca Juga

Dari Upaya Damai ke Meja Hijau: Fei Febriyanti Disidang Dugaan Penggelapan Rp1,05 Miliar di PN Bandung

Mazda Resmi Merakit Kendaraan di Indonesia, Resmikan Pabrik Pertama dengan Standar Manufaktur Global

Judulnya membuat alisnya terangkat:

PELATIHAN TERNAK TUYUL BERKELANJUTAN

Solusi Ekonomi Kreatif, Mandiri dan Berbasis Produk Lokal.

Korupsinikus membaca sampai selesai.

Lalu membaca lagi.

Kemudian tertawa.

Bukan tertawa karena lucu.

Lebih mirip orang yang baru menemukan bahwa dunia ternyata sudah jauh lebih aneh daripada dirinya.

“Hebat,” katanya.

“Hebat apanya, Guru?”

“Dulu manusia memelihara tuyul secara sembunyi-sembunyi.”

“Sekarang?”

“Sekarang sudah dibuatkan kurikulumnya.”

Korupsinikus segera mengumpulkan para calon peternak.

Ia berdiri di depan papan tulis.

Dengan kapur putih ia menulis:

TUYUL = ASET

“Jangan lagi berpikir tuyul itu sekadar makhluk halus,” katanya.

“Tuyul adalah aset produktif.”

Seorang peserta mengangkat tangan.

“Kalau begitu, Guru, apakah tuyul masuk kategori aset lancar?”

Korupsinikus berpikir.

“Tidak.”

“Kenapa?”

“Karena kalau sudah lancar, yang repot bukan akuntannya.”

Peserta tertawa.

Korupsinikus tidak.

Ia malah menambahkan satu kata di papan:

ASET YANG TIDAK BOLEH TERLIHAT

Semua langsung diam.

Pelajaran Pertama: Pilih Tuyul Lokal

Menurut Korupsinikus, era globalisasi tidak boleh membuat bangsa ini kehilangan jati diri.

“Kalau mau ternak tuyul, jangan impor!”

“Kenapa?”

“Utamakan produk lokal.”

Bibit tuyul lokal, katanya, lebih tahan terhadap perubahan lingkungan yang kini semakin sukar diramal.

Tidak gampang kaget.

Tidak mudah mengeluh.

Tidak minta healing.

Dan yang paling penting:

sudah memahami medan.

“Kalau tuyul impor belum tentu mengerti budaya kita,” katanya.

“Budaya apa?”

Korupsinikus menjawab:

“Budaya mengambil, tetapi jangan sampai kelihatan mengambil.”

Pelajaran Kedua: Pendidikan Tuyul

Tuyul harus dididik sejak dini.

Jangan hanya diajari mengambil.

Itu terlalu primitif.

Tuyul modern harus menguasai:

administrasi,

negosiasi,

lobi,

komunikasi,

digitalisasi,

dan kalau perlu…

cara membuat dokumen terlihat sah dan meyakinkan.

“Ini penting,” kata Korupsinikus.

“Kenapa?”

“Karena tuyul zaman dulu cukup menghilangkan uang.”

“Sekarang?”

“Harus bisa menghilangkan jejak.”

Ruangan hening.

Seorang peserta berbisik:

“Wah, ini sudah pendidikan tinggi.”

Korupsinikus mengangguk.

“Benar.”

“Kalau lulus?”

“Dapat sertifikat.”

“Gelar?”

“Bisa.”

“Apa?”

Korupsinikus menulis:

S.T.

Peserta bingung.

“Sarjana Teknik?”

“Bukan.”

“Lalu?”

“Sarjana Tuyul.”

Pelajaran Ketiga: Pakan Lokal

Tuyul juga harus makan.

Tetapi jangan sampai makanan tuyul lebih mahal daripada penghasilan peternaknya.

Karena itu, Korupsinikus menganjurkan pakan lokal.

Singkong.

Jagung.

Ubi.

Tempe.

Tahu.

“Kalau bisa,” katanya, “tuyul diberi makan hasil petani kita sendiri.”

Seorang peserta bertanya:

“Bukankah tuyul makan kembang tujuh rupa?”

“Itu tuyul zaman dulu.”

“Kalau sekarang?”

“Sekarang sudah food estate.”

Semua tertawa.

Korupsinikus menambahkan:

“Jangan salah. Tuyul juga harus mengikuti pembangunan nasional.”

Pelajaran Keempat: Digitalisasi Tuyul

Ini yang paling penting.

Tuyul tidak boleh gagap teknologi.

Manusia sudah menggunakan smartphone.

Tuyul harus lebih pintar.

Manusia sudah menggunakan mobile banking.

Tuyul harus paham sistem.

Manusia sudah mengenal cashless.

Tuyul tidak boleh kalah.

Korupsinikus bahkan meluncurkan aplikasi:

TUYULPAY

Slogan:

“Ambil Sekarang, Bingung Belakangan, ketangkep itu sial”

Aplikasi itu langsung viral.

Investor berdatangan.

Analis mulai membicarakan valuasi.

Influencer membuat konten.

Bahkan ada yang menyebutnya:

“Ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal banget”

Korupsinikus tersenyum.

Tetapi seorang anak muda bertanya:

“Guru, kalau semua sudah digital, tuyul masih diperlukan?”

Korupsinikus terdiam.

Lalu menjawab:

“Justru sekarang paling diperlukan.”

“Kenapa?”

“Dulu kalau uang hilang, orang mencari tuyul.”

“Sekarang?”

“Orang mencari password.”

Pelajaran Kelima: Manajemen Risiko

Tuyul harus punya manajemen risiko.

Jangan sampai tertangkap.

Jangan sampai dikenali.

Jangan sampai tertinggal jejak.

Jangan sampai salah sasaran.

Dan yang paling penting:

jangan sampai mengambil terlalu sedikit.

Seorang peserta terkejut.

“Lho, Guru? Bukankah seharusnya jangan mengambil?”

Korupsinikus menatapnya.

“Kamu ini terlalu polos.”

“Bukankah itu yang diajarkan?”

“Itu pelajaran moral.”

“Lalu yang ini?”

“Pelajaran bisnis.”

Hari keenam, materi pelatihan berubah.

Judulnya:

GOOD GOVERNANCE DALAM PETERNAKAN TUYUL

Di papan tulis tertulis:

Transparansi.

Akuntabilitas.

Integritas.

Profesionalisme.

Seorang peserta bertepuk tangan.

“Wah, hebat sekali!”

Korupsinikus tersenyum.

Kemudian ia menghapus kata:

Transparansi.

Lalu menggantinya dengan:

TRANSPARANSI TERKENDALI

Peserta terdiam.

“Maksudnya apa, Guru?”

“Semua harus transparan.”

“Bagus.”

“Tapi tidak semuanya harus terlihat.”

Ruangan kembali hening.

Pelatihan akhirnya memasuki sesi terakhir.

Korupsinikus berdiri di depan para peserta.

Ia tidak lagi membawa kapur.

Tidak membawa laptop.

Tidak membawa brosur.

Hanya membawa cermin.

Ia meletakkannya di depan kelas.

“Sekarang,” katanya, “pelajaran terakhir.”

Semua menunggu.

“Lihat baik-baik.”

Mereka melihat cermin.

Tidak ada tuyul.

Hanya wajah mereka sendiri.

“Mana tuyulnya?” tanya seseorang.

Korupsinikus tersenyum.

“Itulah masalahnya.”

“Maksudnya?”

“Dari tadi kalian mencari tuyul.”

“Iya.”

“Padahal kalian lupa bercermin.”

Seorang peserta mulai gelisah.

“Guru, apakah maksud Anda manusia sekarang sudah seperti tuyul?”

Korupsinikus menggeleng.

“Bukan.”

“Lalu?”

“Tuyul sekarang justru sedang belajar menjadi manusia.”

Semua terdiam.

“Karena manusia punya sesuatu yang tidak dimiliki tuyul.”

“Apa?”

Legitimasi.

Tuyul mengambil diam-diam.

Manusia bisa mengambil sambil membuat rapat.

Tuyul tidak punya tanda tangan.

Manusia punya.

Tuyul tidak punya stempel.

Manusia punya.

Tuyul tidak punya jabatan.

Manusia punya.

Tuyul tidak bisa membuat aturan.

Manusia bisa membuat aturan yang kadang-kadang membuat pengambilan terlihat seperti kebijakan.

Maka Korupsinikus mengubah kurikulum.

Peternakan tuyul tidak lagi mengajarkan cara mencari tuyul.

Tetapi cara mengenali tuyul.

Namun kelas itu segera sepi.

Tidak ada peserta.

Korupsinikus heran.

“Kenapa tidak ada yang datang?”

Panitia menjawab:

“Karena orang lebih suka belajar cara menjadi tuyul daripada belajar mengenalinya.”

Korupsinikus menghela napas.

Untuk pertama kalinya, ia tampak benar-benar sedih.

Beberapa bulan kemudian, Akademi Ternak Tuyul ditutup.

Bukan karena bangkrut.

Bukan karena dilarang.

Bukan pula karena kekurangan murid.

Justru sebaliknya.

Lulusannya terlalu sukses.

Mereka menyebar ke mana-mana.

Ada yang menjadi konsultan.

Ada yang menjadi pengusaha.

Ada yang menjadi pejabat.

Ada yang menjadi broker.

Ada yang menjadi pengurus.

Ada yang menjadi pengawas.

Ada pula yang menjadi ahli tata kelola.

Mereka semua membawa ijazah.

Mereka semua membawa sertifikat.

Mereka semua mengaku profesional.

Hanya satu yang berubah:

tuyulnya tidak lagi bertubuh kecil, berkepala gundul, dan berjalan malam-malam.

Tuyul modern bisa gentayangan di siang hari.

Bisa memakai jas.

Bisa naik mobil.

Bisa menghadiri rapat.

Bisa berpidato tentang integritas.

Bahkan bisa berfoto sambil memegang plakat:

PENGHARGAAN TOKOH BERINTEGRITAS

Korupsinikus melihat foto itu.

Lalu tertawa kecil.

“Kenapa tertawa, Guru?”

“Tidak apa-apa.”

“Ada yang lucu?”

“Tidak.”

“Lalu?”

Korupsinikus menjawab pelan:

“Cuma teringat tuyul.”

Malam itu ia duduk sendirian.

Di depannya ada dua benda:

sebuah buku tentang produk lokal,

dan sebuah cermin.

Ia membuka buku.

Kemudian menatap cermin.

Lama.

Sangat lama.

Lalu berkata:

“Kalau benar kita harus mengutamakan produk lokal…”

Ia tersenyum getir.

“…barangkali yang paling lokal dari semua produk negeri ini adalah kelakuan kita sendiri.”

Korupsinikus berdiri.

Mematikan lampu.

Sebelum pergi, ia sempat berbisik:

“Ternak tuyul ternyata gampang.”

“Yang sulit adalah berhenti memproduksinya.”

Dan sejak malam itu, Korupsinikus tidak lagi mencari tuyul.

Ia mencari manusia.

Sebab setelah berkeliling negeri, ia menemukan sesuatu yang jauh lebih mengerikan: tuyul ternyata tidak pernah sebanyak manusia.

(*Red)

Share234Tweet146SendSend
admindestina

admindestina

Artikel Lain

Dari Upaya Damai ke Meja Hijau: Fei Febriyanti Disidang Dugaan Penggelapan Rp1,05 Miliar di PN Bandung
Framing

Dari Upaya Damai ke Meja Hijau: Fei Febriyanti Disidang Dugaan Penggelapan Rp1,05 Miliar di PN Bandung

05/08/2026
Mazda Resmi Merakit Kendaraan di Indonesia, Resmikan Pabrik Pertama dengan Standar Manufaktur Global
Framing

Mazda Resmi Merakit Kendaraan di Indonesia, Resmikan Pabrik Pertama dengan Standar Manufaktur Global

02/08/2026
Pegiat Lingkungan Fei Febriyanti Dilaporankan Fifie Rahardja ke Polisi, Diduga Jadi Alat Kriminalisasi
Framing

Pegiat Lingkungan Fei Febriyanti Dilaporankan Fifie Rahardja ke Polisi, Diduga Jadi Alat Kriminalisasi

30/07/2026
Mural “Bapa Langit, Indung Bumi” Hiasi Tanggul Cironggeng, Karya Mang Bob Ajak Warga Jaga Lingkungan
Framing

Mural “Bapa Langit, Indung Bumi” Hiasi Tanggul Cironggeng, Karya Mang Bob Ajak Warga Jaga Lingkungan

30/07/2026
Next Post
Mazda Indonesia Gelar Short Movie Competition 2026

Mazda Indonesia Gelar Short Movie Competition 2026

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Terbaru

Jeep Rayakan 85 Tahun Perjalanan Ikoniknya di GIIAS 2026

Jeep Rayakan 85 Tahun Perjalanan Ikoniknya di GIIAS 2026

05/08/2026
LEX Platform Jadi Fondasi LEPAS E4 EV, Fokus pada Kenyamanan Harian dan Perjalanan Jauh

LEX Platform Jadi Fondasi LEPAS E4 EV, Fokus pada Kenyamanan Harian dan Perjalanan Jauh

05/08/2026
BYD Perkuat Layanan Purna Jual Teknologi DM-i di Indonesia

BYD Perkuat Layanan Purna Jual Teknologi DM-i di Indonesia

05/08/2026
Mazda Indonesia Gelar Short Movie Competition 2026

Mazda Indonesia Gelar Short Movie Competition 2026

05/08/2026
Cara Praktis dan Berdaya Guna “Ternak Tuyul” Era Milenial, Korupsinikus: “Utamakan Produk Lokal, Dong!”

Cara Praktis dan Berdaya Guna “Ternak Tuyul” Era Milenial, Korupsinikus: “Utamakan Produk Lokal, Dong!”

05/08/2026

Menu

  • Airport
  • Apartement
  • Campus to Campus
  • Destinasi
  • Entertainment
  • Framing
  • Health
  • Healty & Sporty
  • Hotel
  • Life Style
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Technologi
  • Uncategorized
  • Wisata
  • Tentang Kami
  • Pedoman Siber

© 2026 Destinasianews -

No Result
View All Result
  • Framing
  • Life Style
  • Healty & Sporty
  • Campus to Campus
  • Hotel
  • MICE
  • Nice Culinaire
  • Wisata
  • Teknologi

© 2026 Destinasianews -

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In