destinasiaNews – Dinamika harga energi global masih terasa hingga beberapa bulan terakhir. Ketidakpastian geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia memaksa penyesuaian BBM non-subsidi di Indonesia. Akibatnya, biaya mobilitas harian menjadi perhatian besar masyarakat.
Padahal kebutuhan bergerak tidak bisa berhenti. Perjalanan ke kantor, mengantar keluarga, urusan harian, hingga perjalanan luar kota tetap jadi rutinitas. Di tengah tekanan ekonomi dengan produktivitas yang tetap tinggi, pertanyaan yang muncul: bagaimana tetap nyaman bergerak tanpa boros biaya?
Pergeseran Mindset: Dari Harga Beli ke Biaya Pakai
Cara pandang memilih kendaraan mulai bergeser. Konsumen tidak lagi hanya melihat harga beli dan performa. Efisiensi energi dan biaya kepemilikan jangka panjang jadi pertimbangan utama. Kendaraan kini dipandang sebagai bagian pengeluaran rutin. Biaya operasional harian jadi faktor penting dalam mengelola keuangan. Ditambah lagi, kendaraan elektrifikasi punya komponen mekanis lebih sederhana dibanding mesin konvensional, sehingga potensi biaya perawatannya lebih efisien.
PHEV: Listrik untuk Harian, Bensin untuk Jarak Jauh
Salah satu teknologi yang relevan adalah Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Berbeda dengan hybrid konvensional, baterai PHEV bisa diisi langsung dari sumber listrik eksternal. Dengan kapasitas baterai lebih besar, kendaraan bisa mengandalkan tenaga listrik untuk sebagian besar perjalanan harian. Ketergantungan pada BBM berkurang signifikan.
Mesin bensin baru aktif saat dibutuhkan tenaga tambahan atau baterai menipis. Kombinasi ini menghadirkan keseimbangan: efisien untuk harian, fleksibel untuk perjalanan jauh.
Untuk mobilitas dalam kota, PHEV menawarkan berkendara halus, senyap, dan responsif. Sementara mesin bensin otomatis bekerja saat jarak tempuh lebih panjang, sehingga pengemudi tidak perlu khawatir soal pengisian daya.
Data menunjukkan 88% perjalanan harian masyarakat Indonesia di bawah 60 km. Artinya sebagian besar bisa dipenuhi mode listrik tanpa menyalakan mesin bensin.
Efisiensi Biaya Harian
Sebagai gambaran, mobil ICE dengan BBM Rp16.250/liter menghabiskan estimasi Rp33.750–Rp68.750 per hari atau Rp843.750–Rp1.718.750 per bulan untuk 25 hari kerja. Sementara PHEV yang pakai listrik hanya butuh Rp21.000–Rp43.169 per hari atau Rp525.000–Rp1.079.225 per bulan. Lebih hemat, tapi fleksibilitas mesin bensin tetap ada.
Perpindahan dari mode listrik ke bensin pada PHEV berlangsung otomatis dan halus. Sistem membaca sisa baterai, kecepatan, dan kebutuhan tenaga. Pengemudi tidak perlu memikirkan kapan mesin berganti. Kenyamanan tetap terjaga.
LEPAS L8 Hadirkan Solusi PHEV Generasi Baru
Pendekatan ini diwujudkan LEPAS L8 lewat teknologi PHEV terbaru. Dalam mode listrik, LEPAS L8 mampu menempuh lebih dari 100 km. Jarak ini cukup untuk mayoritas kebutuhan urban tanpa menyalakan mesin bensin.
Untuk perjalanan jauh, sistem cerdas menggabungkan motor listrik dan mesin bensin. Total jarak tempuh bisa lebih dari 1.300 km dengan baterai dan BBM penuh, setara Jakarta–Bali atau Jakarta–Yogyakarta PP tanpa isi ulang energi. Perpindahannya otomatis dan halus, sehingga pengalaman berkendara tetap konsisten.
LEPAS L8 juga punya fitur Vehicle-to-Load (V2L). Baterainya bisa jadi sumber listrik portabel untuk laptop, alat kerja, atau keperluan rekreasi. Kendaraan bukan hanya alat mobilitas, tapi bagian dari gaya hidup dinamis dan terhubung.
Mobilitas Nyaman, Efisien, Adaptif
Pada akhirnya, mobilitas bukan hanya soal sampai tujuan. Tapi bagaimana perjalanan berlangsung nyaman, efisien, dan sesuai kebutuhan hidup yang terus berubah. Teknologi PHEV menawarkan keseimbangan relevan bagi masyarakat modern: manfaat elektrifikasi untuk harian, ditambah fleksibilitas mesin bensin untuk segala kondisi. (*Red).










